Kungfu Panda
June 23, 2008yesterday is history
tommorow is mistery
and today is gift Read the rest of this entry »
hidup bukan cuma buat sekedarnya
yesterday is history
tommorow is mistery
and today is gift Read the rest of this entry »
Apa kabar dik,
Senang bertemu denganmu siang itu,
Bertutur keluarga barumu
bayimu yang baru 8 bulan,
Ia cantik, Hidungnya mirip benar denganmu – pesek
Tapi ia ramah, suka tersenyum
Berbeda dengan wajahmu,
yang kerap muram
Apa kabar dik,
Kenapa terlihat menua
Apa kau tak nikmati keluarga barumu,
Kenapa terlihat kelelahan dan sering menerawang?
Read the rest of this entry »
Gerimis sejak pagi
Jam 8 pagi ini, tapi langit masih subuh,
Kelam
Ini klasik,
Aku mengingatmu lagi
Bahkan ditengah cuaca dingin
Di Rue Joseph Plateustraat, Brussel
Tapi ini berbeda kurasa,
aku tak mengingkarimu,
bagian warnaku,
Kau senang?
“Menurutku, secara umum penis memang tidak bisa dibilang fotogenik” kata Parvine, tak ada satupun yang menolak pendapatnya diruang minum teh itu. Ada sembilan perempuan diruang itu, yang sedang membicarakan tentang hubungan mereka dengan laki-laki.
Saya ngakak membaca percakapan diatas dan melihat ekspresi Parvine dan teman-teman perempuannya. Ini dialog paling pribadi menggambarkan kelamin, khususnya kelamin laki-laki – yang pernah saya baca, setelah Vagina Monolog-nya Eve Ensler, tentu. Ini petikan dialog dalam komik berjudul Embroideries, karya Marjane Satrapi, penulis perempuan dari Iran.
Ini komik menarik. Embroideries berarti Bordir. Komik ini membagi cerita yang dituturkan saat sesi minum teh siang hingga sore, di sebuah ruangan keluarga Satrapi di Iran. Cerita mereka beragam, tapi pada intinya, ia bertutur tentang bagaimana berwarnanya hidup perempuan, bagaimana mereka berproses, jatuh bangun hingga menjadi dirinya seperti sekarang. Masing-masing punya pengalaman dan warna berbeda, dengan pintu masuk yang unik saat memulai ceritanya. Read the rest of this entry »
Desember selalu membuatku biru, ntah kenapa.
Mungkin karena nitisku dan tutup tahun.
Mungkin karena kau datang dan pergi diakhir tahun.
ntahlah
Desember membuatku biru, ntah kenapa.
Mestinya aku masuk hutan,
seperti tiga atau empat tahun lalu,
membiarkan daun dan tanah liat membalur ragaku
sesekali bercakap-cakap dengan sungai
dan memaki laut
Ah, aku rindu itu.
malam mak,
aku ingn terdampar di pulau bersamamu,
hanya denganmu,
agar kita punya banyak waktu bercerita,
tentang rasa saat menitisku,
malam mak,
aku ingin memelukmu lama,
hanya kau,
agar aku bisa hitung
detik nadimu saat menitisku,
malam mak,
mungkin aku tak pernah mengucapkannya,
tapi aku sayang kau,
sangat.
Jika ada yang bertanya, apa yang paling ingin saya makan ketika di Bali, saya akan jawab Es cream jahe. Rasa es creamnya unik, hangat di mulut dan tenggorokan, plus sensasi dari irisan jahe kecil-kecil manis di dalamnya. Sensual. Itu es cream paling enak. sebelum itu, saya pikir yag paling enak es cream rasa rum raisin, yang makin susah dicarinya. Tapi yang ini, sumpah enak banget.
Itu yang paling saya ingat di malam ulang tahun saya, 8 desember lalu di Seminyak, di warung Made tepatnya, bareng Ijul dan Ovi. Saya ditraktir mereka. hehe, maklum lagi jadi gembel sembilan hari di Bali.
Ada yang mengusik saya semalam, saat melintas jalan tegal parang - peulang dari rumah ijul. Lapangan bulu tangkis, yang biasanya jadi tempat ngumpul dan bermain balita, anak kecil, para ibu, remaja hingga bapak-bapak itu, telah ditutup pagar beton, setinggi 3 meter. terlihat kokoh dan tak ramah. gang disampingnya lenggang dan garing. Tak ada lagi sorak sorai balita, atau pekik kemenangan remaja lelaki saat memukul shuttle kock dengan keras ke tanah.
Kata Ijul, orang Belanda pemilik lapangan itu tak menijinkan lagi tanah itu dipakai. Mereka mau membangun rumah.
Saya sedih, seperti kehilangan sebuah taman indah di tengah kota, yang kemudian membuatnya jadi gersang, anak-anak tak lagi murah senyum di sekitar lapanan itu. Ah …. jakarta, bagai labirin yang menyesak.
“Saya memulai semuanya dengan mengamati” kata Moira, memulai ceritanya. Moira adalah perempuan pertama dalam sejarah pulau Isabel, salah satu propinsi di negara Kepulauan Solomon, yang terpilih menjadi ketua parlemen. Dia dipilih 3 tahun lalu.
Sekarang umur Moira 47 tahun, nenek dengan dua cucu.
“Saya menikah umur 19 tahun, saya tak pernah bertemu dengan suami sebelumnya – dia pun begitu, kami dijodohkan keluarga” ujarnya.
“Jika kalian melihat kami berdua, pasti kalian pikir saya adalah anaknya” tambah Moira tentang suaminya. Perbedaan umur mereka 16 tahun.
Moira tinggal di propinsi Isabel, satu dari sembilan propinsi di kepulauan Salomon, salah satu negara di Asia Pasifik – mantan jajahan Inggris, yang merdeka tahun 1978.
Seperti umumnya perempuan kepulauan Asia pasifik, badan Moira kekar, tinggi besar, kulitnya gelap. Meski terlihat sangar, Moira adalah perempuan yang hangat dan mudah terseyum.
Penduduk Solomon menganut sistem matriarki, perempuanlah pemilik tanah dan mengambil keputusan. Itu teorinya. Baru dua puluh enam tahun setelah merdeka, Isabel memiliki anggota parlemen perempuan. Itulah Moira.
Read the rest of this entry »
Siapapun tak bisa memilih dimana akan lahir, demikian juga Chava, salah satu anak lelaki Cuscatanzngo, desa di tengah medan tempur perang sipil, pemberontak FMLN melawan militer di El Savador - Amerika Tengah, yang terjadi sejak tahun 1980. Dan berlangsung hinga 12 tahun kemudian.
Film ini bertutur perang dari mata anak usia 11 tahun, Chava, yang tinggal bersama ibu dan 2 saudaranya. Perang membuat dirinya menjadi lelaki terakhir dikeluarga, setelah ayahnya minggat ke USA.
Perang berarti cemas berkepanjangan, tak boleh terlambat pulang bahkan maut - saat teman perempuannya terkena peluru nyasar dan rumah kekasih “cinta monyetnya” dibakar. Perang mengajarkannya menjadi lelaki, yang harus bekerja dari menjual jahitan ibunya hingga jadi kernet truk.
Perang juga membuat kawan bermainnya pergi satu-satu, dipaksa menjadi tentara saat usia ke 12. Mereka tak pernah kembali ke sekolah. Setahun kemudian mereka mahir menggendong bedil dan lupa masa kanak-kanaknya: bermain. Read the rest of this entry »